Azkadinaku
Dalam khazanah budaya Jawa, banyak peribahasa yang menyimpan kebijaksanaan hidup yang mendalam.
Salah satunya adalah ungkapan “menang dadi areng, kalah dadi awu.” Secara harfiah ungkapan ini berarti yang menang menjadi arang, yang kalah menjadi abu. Meski tampak sederhana, maknanya sangat relevan dengan kehidupan manusia, terutama ketika berbicara tentang konflik.
Peribahasa ini menggambarkan situasi di mana pertengkaran atau perselisihan tidak benar-benar menghasilkan kemenangan bagi siapa pun.
Pihak yang menang memang terlihat unggul, tetapi kemenangan itu tidak membawa kebaikan yang berarti. Ia hanya seperti arang—masih tersisa, tetapi sudah hangus dan kehilangan bentuk aslinya. Sementara pihak yang kalah menjadi abu—hancur dan tersisa serpihan yang tak lagi bernilai.
Dengan kata lain, konflik yang terlalu jauh sering kali membuat semua pihak sama-sama dirugikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, situasi seperti ini sangat mudah kita temukan. Perselisihan antaranggota keluarga, pertengkaran antar teman, hingga konflik dalam masyarakat sering kali berkembang dari masalah kecil menjadi pertikaian besar. Ketika ego dan emosi lebih diutamakan daripada kebijaksanaan, tujuan awal untuk mencari solusi justru berubah menjadi keinginan untuk “menang”.
Padahal, kemenangan yang diperoleh dengan cara merusak hubungan sering kali tidak membawa kebahagiaan.
Peribahasa Jawa tersebut mengingatkan bahwa menjaga harmoni jauh lebih penting daripada sekadar membuktikan siapa yang benar. Dalam budaya Jawa, nilai kerukunan dan keseimbangan selalu dijunjung tinggi. Konflik memang tidak selalu bisa dihindari, tetapi cara menyikapinya menentukan apakah hubungan akan tetap terjaga atau justru hancur.
Ketika seseorang memilih jalan dialog, saling memahami, dan menahan diri, kemungkinan terjadinya keadaan “arang dan abu” dapat dihindari.
Di era modern yang serba cepat dan penuh perdebatan—terutama di ruang digital—pesan ini terasa semakin relevan. Perbedaan pendapat sering kali berubah menjadi pertengkaran panjang yang tidak produktif.
Banyak orang merasa harus selalu menang dalam argumen, padahal setelah perdebatan usai, hubungan yang rusak sering kali sulit diperbaiki. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada pemenang sejati.
Pada akhirnya, ungkapan “menang dadi areng, kalah dadi awu” bukan sekadar pepatah lama, melainkan pengingat tentang pentingnya kebijaksanaan dalam menghadapi konflik. Terkadang, mundur selangkah, menahan emosi, atau memilih jalan damai justru merupakan kemenangan yang sesungguhnya. Sebab dalam kehidupan bersama, kemenangan yang merusak hubungan bukanlah kemenangan yang patut dibanggakan.( *** )
Beri komentar dengan bijak